Blog Post

blog post

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Akhmad Januar, anak pertama Humaida sedikit lega setelah bisa bertemu langsung Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, Senin (31/10/2016).

Penderitaan Humaida, wanita asal Paser yang mengalami kelumpuhan pasca-melahirkan anak kelimanya, sekitar Juli 2011 lalu kini sudah mendapat jalan keluar.

Sebelumnya, sejumlah media santer memberitakan, karena merasa penderitaan yang seakan tak berujung, pihak keluarga berniat mengajukan fatwa suntik mati.

Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak begitu mendengar kisah pilu Humaida yang disampaikan Januar langsung memberikan solusi.

Awang menjamin biaya pengobatan serta pemeriksaan Humaida sepenuhnya ditanggung pemerintah.

Di depan Januar, Awang langsung menghubungi Rachim Dinata, Direktur RSUD AW Sjahranie Samarinda untuk langsung memindahkan Humaida dari RSUD Panglima Sebaya, Paser (tempat Humaida dirawat) ke RSUD AW Sjahranie Samarinda.

"Pak Rachim, nanti akan ada anak muda yang menghubungi Pak Rachim. Tolong diberikan perawatan serta pengobatan atas apa yang diidap ibunya. Biaya pengobatan sepenuhnya ditanggung Pemprov Kaltim. Segala perkembangannya, nanti dilaporkan ke saya," ucapnya.

Kepada Gubernur Awang, Januar menceritakan awal mula ibunya, Humaida sakit hingga mengalami kelumpuhan.

Pada Juni?Juli 2011 atau lima tahun lalu, sang ibu, Humaida ingin melahirkan di RSUD Panglima Sebaya, Paser. Namun, dalam prosesnya, pihak RSUD Panglima Sebaya merujuk agar proses persalinan dilakukan di Klinik Muhammadiyah Tanah Grogot.

Di klinik tersebut kemudian proses persalinan terjadi, dan berjalan normal. Humaida berhasil melahirkan anak kelimanya.

Namun, permasalahan muncul justru usai proses persalinan. Mengingat usia Humaida sudah 41 tahun saat itu, dan melahirkan anak ke-5, pihak klinik menawarinya ikut KB steril.

"Ibu dan bapak saya setuju atas penawaran tersebut," ujar Januar kepada Gubernur.

Beberapa jam usai proses KB steril, permasalahan kesehatan mulai dialami Humaida, ditandai kejang?kejang, dan napas tersengal.

Bahkan, sampai kehilangan denyut nadi dan sempat tak bernapas.

"Ketika proses ini terjadi, tim dari klinik kemudian memanggil dokter untuk mengatasi masalah. Namun, dokter baru tiba setengah jam usai kejadian. Selama menunggu, tak ada satupun penanganan spesifik yang dilakukan, dan hanya dilakukan tensi. Tidak ada napas buatan, atau tindakan pertolongan pertama atas hilangnya kesadaran ibu saya saat itu. Inilah yang kemudian membuat ibu saya harus cedera otak parah, dan akhirnya hingga sekarang lumpuh, tidak bisa bergerak," tuturnya.

Proses pengobatan dilakukan setelahnya. Namun selanjut, keluarga tak bisa lagi membeli obat karena keterbatasan biaya. Bingung karena hal tersebut, Januar dan ayahnya, serta keluarga kemudian mengambil pilihan berniat mengajukan fatwa suntik mati atas ibunya Humaida, jika tak ada bantuan pengobatan yang bisa mereka dapatkan.

Terus Berjuang
Humaida kini tak berdaya dalam perawatan medis RSUD Panglima Sebaya Tanah Grogot.

Suami, anak, dan keluarganya nyaris pasrah. Permohonan suntik mati kepada Mahkamah Agung (MA), menjadi jalan terakhir keluarga agar Humaida benar?benar bisa lepas dari derita yang dialaminya.

Sebelumnya, upaya demi upaya dilakukan keluarga Humaida. Seperti yang dilakukan sang anak, Januar As'ari yang tak lelah berjuang mencari keadilan, berjuang untuk kesembuhan sang ibu.

Januar bahkan bolak balik ke kantor Pengurus Muhammadiyah (PW) Kalimantan Timur, di Jalan Siradj Salman, Samarinda.

Meski sejatinya dia lelah menempuh perjalanan 6 jam dari Kabupaten Paser di selatan Kalimantan Timur.

Rasa sayangnya kepada ibunda tercinta mendorongnya menyerahkan sejumlah dokumen kepada pengurus PW Muhammadiyah Kaltim, terkait kronologi awal sang ibu hingga lumpuh selama 5 tahun terakhir ini. Tidak ada keraguan, penjelasannya pun begitu gamblang.

Januar berbagi cerita tentang kondisi ibunya bersama wartawan yang menemuinya, setelah 8 langkah kaki meninggalkan ruangan kantor PW Muhammadiyah.

"Kondisi sekarang lumpuh tidak berdaya, sama seperti tahun?tahun sebelumnya," kata Januar.

Kondisi ibu yang terus menurun, perawatan akhirnya dialihkan ke RSUD Panglima Sebaya di Tanah Grogot, Paser.

Sebulan kemudian, Humaida pun dilarikan ke RSUD dr Kanujoso di Balikpapan. Tidak ada penjelasan rinci penyebab Humaida terus menurun, dari medis yang menanganinya saat itu.

"Di Kanujoso cuma 4 bulan, kemudian balik lagi ke Sebaya, menggunakan surat keterangan tidak mampu (SKTM), dimana perawatan ditanggung Pemda. Medis Kanujoso bilang, tidak ada medis di Kalimantan yang bisa mengobati, disarankan dibawa ke Jakarta," ungkap Januar.

"Kondisi ibu saya yang menurun hingga tidak sadarkan diri karena cedera otak dari keterangan medis, bapak saya tidak suka ribut, menunggu pihak yang bertanggungjawab di klinik dan bicara baik?baik. Rupanya tidak ada juga itikad baik," terangnya.

Sang ayah pun mulai pasrah, segala sumber dana juga dihabiskan untuk menyembuhkan Humaida.

Perjuangan Januar tidak terhenti, dia mengadu ke PD Muhammadiyah Paser, ke Pengurus Pusat Muhammadiyah di Yogyakarta, bahkan ke Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalimantan Timur, sepekan lalu.

Sekarang ini ibunya masih lumpuh dan dijaga bergantian bersama bapak dan anggota keluarga lainnya.

Sesekali kepasrahan muncul di benak keluarga, untuk menyudahi ujian ini dengan cara menyuntik mati Humaida. 

http://kaltim.tribunnews.com/2016/11/01/jamin-biaya-pengobatan-humaida-gubernur-langsung-hubungi-dirut-rsud-aws?page=all

  • Share This Story

Komentar (0)

Leave a comment